photo 2504_smedium.jpg

Shelter TMB koridor I, gambar:chandrafz13.blogspot.com

Udah 6 tahun lebih Trans Metro Bandung atau disingkat TMB dilaunching, tapi (dari yang aing liat) masih gini gini aja. Shelter berantakan dan ngangkut penumpang dimana aja, terus bedanya sama bus kota biasa apa? Sampai saat ini udah ada 4 koridor shelter yang dibangun, Cibiru-Elang, Cicaheum-Ciroyom, Cicaheum-Sarijadi, sama Antapani-Leuwi Panjang. Yang terakhir disebut baru selesai dibangun akhir tahun kemaren jadi pasti masih bagus, walaupun sempet ada masalah karena tidak ramah ke kaum disabilitas tapi katanya mau diperbaiki. Sedangkan tiga lainnya kondisinya udah mengenaskan. Koridor pertama yang pertama dibuat tahun 2008, banyak yang bentuknya udah nggak karuan. Isinya kotor dan sejauh yang aing liat nggak dipakai sebagai shelter, malah dijadiin tempat bernaung beberapa tunawisma. Dua koridor lainnya, yang selesai tahun 2012 dan awal 2014 nggak beda jauh. Beberapa kaca pecah, dicoret coret pakai piloks dan hanya sebagian kecil yang ada petugas didalemnya. Koridor tiga sih katanya baru mau dioperasiin tahun ini, lah koridor dua? Udah beroperasi 3 tahun masih gitu gitu aja. Terus buat apa mahal mahal dibangun koridor kalau naik-turunin penumpang dimana aja? Apa bedanya sistemnya sama bus kota biasa? Kenapa nggak disatuin sama halte angkot dan bus kota biasa buat ngehemat anggaran?

Ditulis : 22 February 2015 jam 14:44 WIB | 0 Komentar

https://pbs.twimg.com/profile_images/1167936728/KK.jpgsumber gambar : twitter kotakritik

Coba anda mention siapapun tokoh terkenal di twitter dengan isi tweet mengkritik. Kalau dibales (bahkan dengan balasan ‘sopan’ oleh tokoh tersebut sekalipun) aing jamin banyak mention tertuju ke akun anda berisi cemoohan dari followers tokoh tersebut. Walaupun anda menggunakan kritik yang logis dan bermanfaat. Mungkin sudah jadi budaya orang Indonesia, apa yang dia ketahui pertama itu yang benar. Jadi kalau ada sumber info lain yang berbeda dari pengetahuan orang tersebut berarti salah. Kalau kata psikolog di film 22 Jumpstreet sih namanya "Embedded". Sudah jadi budaya orang Indonesia juga menganggap kritik itu berarti pelecehan dan pencemaran nama baik. Mungkin itu sebabnya masih banyak orang yang belum siap menerima kritik (sekalipun bermanfaat).
Padahal kritik adalah sumber penting dan mahal yang bisa dijadikan bahan evaluasi dan perbaikan. Kritik sendiri dalam wikipedia dituliskan “masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan.”. Jika mengacu pada definisi dari wikipedia, sudah jelas bahwa tujuan dari kritik sendiri adalah untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. Berarti sudah jelas sangat bermanfaat, kan?
Aing pernah membahas hal semacam ini di postingan ‘Mulutmu Harimau Kerempengmu’, dan mungkin ada sedikit kontradiksi antara tulisan di postingan itu dan ini. Sedikit meluruskan, di postingan itu aing tulis kalau kritik yang tanpa dasar yang tidak pantas dilontarkan, bukan tidak boleh mengkritik. “Diam itu Emas, tetapi Berbicara yang Benar lebih baik dari Emas” mungkin jadi penganalogian yang cocok buat kasus ini.

Mengkritiklah dengan bahasa yang sopan. Kalau anda berkritik tapi pakai bahasa yang nggak sopan jatuhnya kayak bukan kritik tapi menghina. Bahasa yang nggak sopan adalah salah satu pemicu emosinya pihak yang ter-kritik sehingga kritik yang anda sampaikan malah tidak sampai ke dia (meskipun inti dari kritiknya sendiri harus diambil oleh pihak yang ter-kritik).
Ada lagi yang penting, bedakan “apa yang belum anda tahu” dan “yang anda tahu tapi buruk”. Ini juga salah satu pemicu emosinya pihak ter-kritik. Cukup banyak juga orang yang mengeluh dan mengkritik tentang sesuatu yang belum terjadi (padahal sudah direncanakan oleh pihak ter-kritik). Ambil contoh yang paling hangat, kasus trotoar granit di Kota Bandung yang menimbulkan protes dari karena trotoar tersebut tidak difable friendly, padahal trotoar tersebut selesai dikerjakan saja belum, tetapi sudah dijustifikasi ini itu. Faktanya, trotoar tersebut sudah dirancang untuk kaum difabel, salah satunya pemasangan guilding block pada trotoar tersebut.

 

https://pbs.twimg.com/media/B7tF3hhCUAAtVnF.jpg

sumber gambar : twitter dbmpkotabandung

Nah, karena tidak adanya bahan granit yang sudah terpasang guilding block dari sononya, maka guilding block akan dipasang terpisah setelah pengerjaan trotoar selesai. Ini jadi salah satu contoh konkret tentang ketidaktahuan yang berujung kritik tanpa dasar (meskipun kritik tentang difable friendly ini tidak hanya tentang trotoar tapi juga tentang shelter TMB, tetapi permasalahan trotoar ini cukup menarik perhatian juga). Nah, untuk kasus semacam ini lebih baik bukan mengkritik dan menjustifikasi, tetapi dengan cara bertanya. Misalnya dengan “Apakah trotoar ini mendukung kaum difabel?”, “Apakah trotoar ini akan menggunakan guiding block saat selesai dikerjakan?”, nah pertanyaan semacam ini lebih nyaman dicerna dibanding kritik tanpa dasar.

Bedakan juga kritik dengan kecaman, kalau objek ter-kritik sudah di kritik berkali-kali dikritik tetap tidak ada tanggapan atau kesalahan yang dilakukannya fatal dan membahayakan hajat hidup orang banyak dapat langsung dikecam.
Jadi mengkritiklah, jika anda punya dasar dan argumen. Perjuangkan argumennya, tapi jika pada akhirnya anda sadar argumen anda salah jangan malu untuk mengaku salah, jangan kekeuh memaksakan argumen anda. Terima argumen lawan anda yang terbukti benar. Seperti kata Kang Emil, “Kritik itu seperti Obat, pahit tapi harus diminum jika ingin sembuh.”.

*judul diadaptasi dari lirik lagu Koil, Kenyataan Dalam Dunia Fantasi

 

Ditulis : 19 January 2015 jam 15:22 WIB | 0 Komentar

Tos lila pisan kajadiana téh, 7 Nopémber 2014 tapi euforia na téh teu béak waé.

Pangalaman kahiji Abdi sacara sadar lalajo Pérsib di tv basa Pérsib dilatih ku Marék Sledzianowski basa éta bobotoh protés kusabab di mimiti kompetisi Pérsib éléh waé.

Abdi lalajo Pérsib kahiji di Stadion Siliwangi basa Pérsib ngalawan Pérsiba Balikpapan. Pérsib unggul 5-1. Basa éta abdi lalajo sorangan kusabab teu aya nu badé ngabaturan…

Tiap taun abdi ngaharepkeun Pérsib kenging juara Liga Indonésia, nembé taun ieu harepana dikabulkeun. Taun ieu abdi teu pernah lalajo Pérsib maén di liga langsung di stadion. Abdi ngan lalajo Pérsib basa maen di fase grup Inter Island Cup sareng basa Pérsib ngayakeun tanding lawan Malaysia Selection di Stadion GBLA. Taun ieu ti mimiti awal kompetisi Pérsib nunjukkeun permainan goreng, tapi saatosna Pérsib tiasa ngapepeskeun rekor goréng lamun maén di kandang lawan. Nepi babak 8 besar, semifinal sareng final akhirna Pérsib kénging juara. Tapi abdimah leuwih panik basa Pérsib di semifinal ngalawan Aréma dibanding di final ngalawan Pérsipura. Basa ngalawan Aréma abdi teu tiasa cicing, gogorowokan waé. Lamun ngalawan Pérsipura abdi mah cicing waé sareng nyieun nazar.

Achmad Jufrianto mastikeun Pérsib juara ti babak adu pinalti. Abdi langsung gogorowokan, salajengna abdi ngilu konvoy nepi ka calik di luhur mobil batur kukulilingan di Kota Bandung.

 photo IMG_20141107_231344.jpg

Tapi abdi leuwih muringhal basa ningal langsung trofi ISL pas diarak. Abdi ningal pahlawan urang Bandung anu mawa balik trofi ka Bandung.

 photo IMG_20141109_182702.jpg

Ditulis : 30 December 2014 jam 23:39 WIB | 0 Komentar
Cinta Dapat Kadaluarsa

-Raditya Dika, Cinta Brontosaurus

Kutipannya sedikit mengganggu pikiran, dan tiba tiba terpikir analogi buah pengembangan dari kutipan itu.

Kue dapat kadaluarsa, kue dapat habis, kue dapat menyehatkan, lue yang berbahan baku baik dapat menyehatkan, sebaliknya kue yang mengandung bahan berbahaya dapat memberi penyakit buat yang memakannya, kue juga dapat diawetkan baik dengan pengawet yang benar maupun pengawet yang memberikan penyakit, tetapi jika kue sudah kadaluarsa, kue juga dapat difermentasikan. Kue dapat hanya dicicip ataupun dinikmati seluruhnya. Tapi yang terpenting, kue butuh piring yang bersih sebagai tempat menyimpan. Tanpa piring yang bersih (bahkan tanpa piring), mungkin kuenya akan kotor dan ketidaksempurnaan yang dapat dirasakan yang memakannya.

gambar : www.cakeslash.com

Sama seperti cinta. Cinta dapat kadaluarsa, cinta dapat habis, cinta yang baik dapat menyehatkan, sebaliknya cinta juga dapat memberikan kesakitan jika cinta diisi kebohongan dan kemunafikan, cinta bahkan dapat diawetkan, tentu diawetkan ini ada yang baik dan yang buruk. Baik jika cinta itu awet saat hubungan masih terjalin, buruk jika cinta itu masih tetap awet walaupun sudah tidak ada hubungan lagi atau bahasa gaulnya gakbisa move-on. Tentu cinta awet jenis ini dapat berdampak buruk, sama seperti kue yang diawetkan dengan formalin. Dapat memberi penyakit bahkan membunuh. Cinta bahkan dapat difermentasikan. Cinta yang sudah kandas, sudah kadaluarsa sebetulnya masih dapat muncul kembali. Asal ada usaha dari salah satu pihak atau keduanya agar cinta itu kembali ada. Jelas usaha memfermentasikan cinta ini belum tentu berhasil, dan belum tentu hanya memakan waktu sebentar. Mungkin berhari-hari, berbulan-bulan, atau 12 tahun seperti kisah cinta Cinta dan Rangga dari Ada Apa Dengan Cinta. Yang jelas, cinta butuh hati yang tulus dan bersih. Tanpa hati yang dapat merasakan keindahan dan kesempurnaan cinta, mungkin hanya ketidaksempurnaan, kerugian, dan kesia-siaan yang dapat dirasakan sang pencinta. Hati memang bukan piring, tetapi banyak yang mungkin benar benar menganggap cinta itu seperti kue, hanya untuk dicicip saja dan dimakan bagian manisnya saja.

Sudah lama sejak tulisan terakhir di blog ini diposting, karena memang selama 4 bulan ini merupakan bulan yang cukup berat. Momen aneh dan momen tidak terduga terjadi dalam kurun waktu 4 bulan ini. Banyak hal yang menyenangkan dan harapan yang terkabul dalam 4 bulan ini, tetapi hal hal menarik tersebut pun harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Tapi yang jelas, momen-momen tersebut sangat berharga, memberi pelajaran, dan yang pasti sangat memberi manfaat walaupun mungkin belum semua manfaat muncul saat ini juga.

By The Way, selamat liburan!

Ditulis : 29 December 2014 jam 17:08 WIB | 0 Komentar

 photo bandung.png

DAN BANDUNG

Dan Bandung, bagiku bukan cuma, urusan wilayah belaka

Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan

Yang bersamaku ketika sunyi

Mungkin, Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, mungkin

Mungkin saja ada tempat yang lainnya

Ketika ku berada di sana

Akan tetapi Perasaanku sepenuhnya ada di bandung

Yang bersamaku ketika rindu. Yang bersamaku ketika rindu

(Pidi Baiq)

 

Wilujeng Milangkala ka 204, Bandung

Ditulis : 25 September 2014 jam 14:30 WIB | 0 Komentar
<123456...20>
Halaman 3/20
Coretan Terbaru
Komentar Terbaru
  • Wayarless, aplikasi adhoc WIFI dikomentari oleh Tes kommenter
    Ditulis : 20 May 2018 jam 12:56 WIB
  • Flepi Kepo dikomentari oleh Faiz Rahiemy
    Ditulis : 12 February 2014 jam 15:16 WIB
  • Flepi Kepo dikomentari oleh imam
    Ditulis : 9 February 2014 jam 16:25 WIB
  • Beware, Tomcat! dikomentari oleh tomcat
    Ditulis : 4 February 2013 jam 14:55 WIB